Showing posts with label dunia anak. Show all posts

5 Hal Yang Diajarkan Anak Kepada Orangtuanya




Anak-anak bisa jadi merupakan orang yang paling bijaksana. Mereka terlalu sibuk berfokus pada urusan menjalani hidup, karena itu mereka bisa melihat kehidupan dengan lebih baik daripada kita.

Berikut adalah lima hal yang anak bisa ajarkan kepada Anda:

1. Hal-hal kecil dalam hidup

“Aku berharap bisa menyukai segala sesuatu seperti anak-anak menyukai gelembung,” kata karakter Paul Rudd di dalam film “Knocked Up”. Saat Anda merasa sangat letih dan melihat anak Anda begitu senangnya bermain gelembung di taman, ingatlah bahwa semua itu hanyalah kesenangan kecil yang membuat hidup Anda berharga. 

Kapan terakhir kali Anda melakukan hal kecil yang sangat Anda sukai? Pergi keluar pada malam hari? Duduk di taman sambil membaca buku? Berbaring lama di hari Minggu dengan tumpukan kertas? Anda tidak pernah melakukan itu semua saat muda. Namun itu karena Anda telah memiiki anak saat ini dan semua waktu kebebasan, jalan-jalan malam dan membaca buku sudah tidak ada lagi.

Tapi jangan khawatir, coba pikirkanlah beberapa hal yang lebih kecil dalam hidup, misalnya menikmati secangkir teh sebelum teh itu dingin.

2. Anda dapat meluangkan waktu untuk apa yang Anda inginkan

Saat Anda mengingat waktu-waktu Anda sebelum punya anak, Anda akan merasa terkejut bagaimana Anda mengisi waktu saat itu. Anda menghabiskan waktu dengan berbaring lama di hari Minggu di atas tumpukan kertas dan pergi jalan keluar di malam hari, namun banyak dari waktu tersebut dihabiskan dengan melakukan satu hal pada satu waktu, dengan sangat perlahan.

Sekarang waktu adalah musuh Anda, Anda tahu betapa pentingnya untuk menghabiskan setiap menit sehari. Itulah mengapa Anda bisa memasang tirai baru, memesan makanan secara online, menidurkan bayi dan membantu anak Anda mengerjakan PR matematikanya pada waktu yang bersamaan. Sayangnya, tidak ada dari hal-hal tersebut yang dapat dikerjakan dengan maksimal, namun setidaknya Anda dapat mencentangnya di daftar apa yang harus Anda lakukan. Dan itu sangat penting.

3. Kreativitas berasal dari antusiasme masa muda
Smart Phone Android
Terry Gilliam dari Monty Python mengatakan, dasar kesuksesan kreativitasnya adalah dengan tidak membiarkan dirinya menjadi tua dan letih. Dengan berpegangan pada kesenangan yang kekanak-kanakan, ia menciptakan beberapa film yang paling imajinatif selama beberapa dekade belakangan.

Saat Anda semakin tua, kemampuan Anda melihat keajaiban telah memudar, dan segala sesuatu terlihat sangat membosankan. Itulah mengapa saat Anda menghabiskan waktu Anda dengan membantu anak Anda mewarnai gambar dan menempelkan gambar tempel, Anda akan merasa bahwa Anda bahkan lebih merasa senang dari mereka, setelah itu Anda pun bekerja dengan keras dalam mengisi semangat kreativitas Anda. Sangat bagus!




4. Anda menghabiskan banyak waktu untuk mengetahui diri Anda yang sebenarnya


Anak perempuanku terbiasa tidak mengunci pintu dan belajar untuk membukanya. Untungnya, ia masih belum begitu bisa.

Itu hanyalah salah satu momen saat aku melihatnya berlatih dengan fokus semacam itu setiap hari, kemudian aku pun tersadar berapa banyak hal yang aku lakukan yang tidak semenakjubkan ketika kecil. Kita semua harus belajar bahwa cangkir yang besar tidak mungkin muat dimasukkan ke dalam cangkir kecil, dan sebuah kunci akan bekerja jika dimasukkan ke lubang yang cocok.

Itu adalah hal-hal kecil yang Anda akan berpikir, “Wow, itu sungguh luar biasa! Aku sungguh senang karena aku tidak perlu mempelajari hal-hal mendasar tersebut dalam waktu lama.” Sesuatu yang membuat Anda merasa bersyukur bisa melakukannya. Mungkin sedikit senyuman kemenangan.

5. Cerminan diri

Anda mungkin sudah dewasa. Tapi memperhatikan balita Anda yang sedang marah dapat membuat Anda sadar bahwa kita masih belajar untuk menjadi orang dewasa.

Bagian dari diri Anda yang masih sering cemberut saat sedang berkumpul bersama keluarga, menolak untuk menerima argumen orang lain, bahkan jika Anda salah, atau membuat Anda telat datang ke rapat, merupakan bagian dari diri Anda saat masih belum bersekolah.

Bagian diri Anda yang masih suka sulit diatasi orangtua, sering egois, kritis atau tidak sabar dengan kegagalan Anda.

Susan D. Smith merupakan konsultan manajemen stres di Bromley Management Centre. Ia menyarankan Anda untuk lebih bertanggungjawab dengan orang-orang yang Anda cintai, “Keluarkan sisi kekanak-kanakan Anda untuk bermain sebelum rapat penting dan biarkan sisi kedewasaan Anda yang mengatasi masalah selanjutnya  – Anda pun akan merasa lebih tenang.”

Ternyata, seorang balita yang sedang mengambek di karpet karena rotinya jatuh, tidak berbeda jauh dari diri Anda dan saya sekarang.

Sumber : Yahoo.com


Ciri-Ciri Anak Dengan Dominan Otak Kanan




1. Kreatif & ingin mengetahui hal-hal baru dan menemukan cara-cara baru yang tidak konvensional, melihat alternatif solusi dari berbagai permasalahan.


2. Spasial Tiga Dimensi, mampu melihat dan membayangkan sesuatu secara tiga dimensi; bisa melihat dari kanan ke kiri, atas ke bawah dan sebaliknya. serta membolak balik huruf, angka dan gambar.

3. Memori Fotografi, mampu merekam informasi dalam bentuk gambar-gambar baik dalam bentuk diam atau seperti film yang bergerak. Memiliki papan layar di otaknya.

4. Art : melihat sebuah pekerjaan sebagai proses seni yang mengandalkan rasa dan estetika yang sering kali tidak bisa dibatasi oleh waktu dan bekerja berdasarkan inspirasi dan mood.

5. Deduktif : terlebih dahulu harus melihat gambaran besarnya atau hasil akhirnya baru bergerak menyusun langkah demi langkah dan tahapan prosesnya.

6. Random : Menyusun dan mengolah informasi secara acak, sehingga penyampaian informasinyapun cenderung tidak sistematis.

7. Visual : Bekerja dalam bentuk gambar; sering kali sulit menuangkan ide gambarnya tersebut kedalam kalimat atau kata-kata yang dipahami.

8. Global : Lebih menyukai gambaran umum dan kurang menyukai hal-hal detail.

9. Mind Mapping : Lebih suka dan gampang menulis dalam bentuk pola gambar seperti peta.

10. Model Estetika : Menilai sesuatu berdasarkan cita rasa dan estetik seni bukan fungsi dan kegunaan.

11. Moody : Kemampuan berpikir dan bekerja yang sangat dipengaruhi oleh Emosional dan perasaan.

12. Spontan : Melakukan hal atau sesuatu secara spontan berdasarkan dorongan emosional sesaat. Sering melakukan tindakan dan mengambil keputusan diluar rencana

13. Picky Job : Hanya mau mengerjakan hal-hal yang menarik perhatiannya. Tidak mudah di suruh/diperintah.

14. Un limited time : Jika sudah asyik terhadap satu bidang lupa waktu.

15. Konklusif : Menarik kesimpulan umum dari kepingan-kepingan informasi.

16. Eksekusi 2 langkah : Merekam informasi baru memaknainya.

17. Inspirational : bekerja berdasarkan datangnya inspirasi bersifat dadakan dan tidak terencana.


Giggle the fun factory


                 
  Dunia anak tak lepas dari dunia bermain & belajar.Banyak dari orang tua yang mencemaskan tempat - tempat bermain yang aman bagi anak mereka dari soal kebersihan,keamanan,kenyamanan,& sebagainya... kita sebagai orangtua pasti akan sangat teliti & selektif dalam memilih tempat permainan untuk anak kita.

      Sekarang anda tidak perlu khawatir ada tempat yang bisa membuat anak anda nyaman sepanjang hari.dari kebersihan hingga keamananya.GIGGLE The fun factory kini hadir untuk anda.Bertempat di FX mall plaza,anak anda akan bisa bermain sepuasnya dengan rasa aman & nyaman dengan crew yang ramah tamah & sigap terhadap para pengunjung yang bermain.



  Wahana yang ada di GIGGLE The Fun Factory :

1. LITTLE ZOO

Wahana ini di peruntukan untuk anak yang tingginya dibawah 1 meter.konsepnya adalah sebuah kebun binatang kecil di tengah kota.disini anak bisa untuk bermain seperti mandi bola,slider,ayunan,dll






2. PLAY ZONE

Wahana ini diperuntukan untuk anak diatas 1 meter & lebih untuk memacu adrenalin anak.disini terdapat permainan seperti slider,mandi ballon,flaying fox,juga terdapat teropong untuk bisa melihat pemandangan sekeliling kota jakarta.









3. WATER WORKS

Wahana Ini adalah satu - satunya water play pertama di indonesia dengan konsep indor.disini anak bisa bermain air sambil belajar.disini terdapat permainan untuk memancing,fountain & shower,water fall,vacum machine,mist water,dll.











4. Mini CORUSELL

Wahana ini adalah permainan Kuda - kudaan

5. Ride ( kereta)

Kereta ini berkeliling mengitari lantai 5 fx plaza

6. Doddles

Disini Anak akan diajarkan untuk art & painting,di Doddles juga anda bisa menyewa tempat untuk ulang tahun anak anda





7. Harga Ticket 1 Bulan
 
    Di Giggle juga ada ticket masuk untuk 1 bulan,sudah termasuk paket :

    a.harga tiket masuk anak 1 bulan
    b.termasuk 1 pendamping
    c.sepuasnya main train wacky wagon

Harga Update Per 1 February 2013 Ticket Masuk Bermain Ke Giggle :

- Ticket non member                                                                                Rp.110.000,(all day)
- Ticket member Giggle & Miniapolis                                                        Rp.90.000,(all day)
- Doddles harganya bervariasi untuk melakukan art & painting mulai dari   Rp.25.000 s/d 85.000
- Ticket mini  Courosell                                                                            (Including All day pass)
- Ticket ride   Non Member                                                                      Rp.40.000
- Ticket ride   Member                                                                              Rp.30.000
- Ticket Non Member 1 bulan                                                                   Rp.499.000
- Ticket Member 1 bulan                                                                           Rp.399.000

Additional :

- Towel              Rp.35.000
- Rain cout         Rp.15.000
- Kaos kaki       Rp.10.000








Saran sebelum bermain di Giggle :

1.Sebaiknya anak makan terlebih dahulu sebelum bermain,karena makanan & minuman tidak diperkenankan untuk dibawa masuk ke area
2.Diwajibkan membawa pakaian ganti,handuk,shampo & sabun untuk bermain di water works
3.Membawa kaos kaki karena di giggle pengunjung diwajibkan memakai kaos kaki



Cara Terbaik Mengendalikan Anak

Banyak orangtua dan guru yang mengikuti seminar saya berkomentar “Oke, teknik yang Anda berikan untuk mengatasi problematika anak sangat bagus. Tapi, saya tidak yakin bisa menerapkan apa yang telah Anda ajarkan” lalu tanya saya “Apa sebabnya?”, “Pertama saya tidak disukai anak, berikutnya bagaimana mengkomunikasikan pada mereka ?”.

Jelas ini adalah masalah, tapi tenang ada cara bagaimana mengendalikan perilaku anak. Tapi sabar dahulu sebab ada bagian yang harus Anda pahami dahulu.
Banyak dari orangtua dan guru bertanya dalam pikiran mereka sendiri :
  • Mengapa anak saya tidak peduli dengan masa depannya?
  • Mengapa mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal (guru dan orangtua)
  • Mengapa mereka tidak mau mendengarkan walupun sudah diingatkan berkali-kali?
  • Mengapa anak saya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh hal-hal negatif dari teman-temannya yang tidak berguna?

Nah, pertanyaan utama : bagaimana mengendalikan perilaku dan pemikiran mereka?
Jawabanya adalah EMOSI mereka. Emosi sangat menguasai logika berpikir mereka anak-anak dan remaja. Remaja dan anak-anak jauh lebih banyak didorong oleh perasaan mereka daripada pemikiran yang baik untuk mereka. Dengan mengetahui hal ini, maka sia-sia upaya kita mengkuliahi mereka seharian. Membombardir pikiran mereka dengan nasehat positif, menjadikan diri kita motivator dadakan didepan mereka tidak akan mempan. Justru membuat anak bertambah “sebal” dengan kelakuan kita. komentar atau nasihat seperti : “kamu harus giat belajar”, “jangan buang waktumu dengan bermain terus”, “jaga kebersihan dikamarmu”, kecuali bila kita sudah terlebih dahulu mengenali perasaan mereka. 


Dalam kondisi emosi yang negatif seorang anak tidak dapat menerima input dan nasehat bahkan titah sekalipun yang dapat mengubah perilaku mereka. Berbeda hasilnya jika kita mampu mengerti dan mengenali perasaan emosi mereka terlebih dahulu maka mereka akan terbuka dan mendengarkan saran logis dari kita. Anak –anak dan remaja akan melakukan sesuatu jika membuat mereka merasa nyaman atau enak di rasanya atau hatinya.


Sebelum melangkah lebih jauh, kita akan belajar bersama, bagaimana reaksi kita dalam menghadapi masalah anak. Seringkali jika ada masalah maka yang ada dibenak kepala kita umumnya ada 3 hal, yaitu :
  1. Memberi Nasihat, misal: “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita pada umumnya “apa-apaan kamu ini sekolah bukan tempat belajar jadi tukang berantem, hanya penjahat yang menyelesaikan masalah dengan berantem”
  2. Menginterogasi, misal: “Hp saya hilang di sekolah” respon kita pada umumnya “kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Yakin kamu tidak lupa, coba diingat kembali”
  3. Menyalahkan dan menuduh, misal: “tadi Edo dihukum karena tidak mengerjakan PR” respon kita pada umumnya “dasar anak malas, mulai hari ini kamu harus lebih disiplin dan perhatikan tugas disekolah”.

Setelah melihat ketiga contoh diatas, tidak ada satu ruang pun untuk mengakui perasaan atau emosi anak, betul? Seringkali kita ini hanya memberikan masukan tanpa mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi (lebih tepatnya perasaan apa yang terjadi pada diri anak kita). Ketika emosi seorang anak diabaikan mereka akan lebih marah dan benci. Selama ini mereka berada dalam keadaan emosi negatif, semua nasihat-nasihat maksud baik kita tidak akan digubris, malah akan di “gubrak”.


Cara terbaik untuk mengendalikan anak kita adalah, mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Caranya adalah:


1. Dengarkan mereka 100%, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang. (Berikan perhatian dan pengakuan)

Terkadang yang dibutuhkan anak hanya didengar saja, bukan solusinya. Hanya memberikan perhatian 100% kita bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka dan mau berbagi pikiran dan perasaan. Hanya dengan berkata “hmm.. okay, begitu ya.. lalu..” Walau nampaknya sederhana, jujur ini sulit bagi kita orangtua yang terbiasa mau ambil jalur cepat alias memberikan solusi dan menyelesaikan masalah. Ketika hal itu kita lakukan, anak akan menutup diri dan menghindar bicara kepada kita. Anak hanya akan meyatakan pikiran dan perasaan yang sejujurnya tanpa takut dihakimi.

Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas (saat kita ada untuk memberi dukungan emosional), kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka. Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri untuk berpikir bagi dirinya sendiri dan menghadapi tantangan – tantangan hidup.

Misal : “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita “apa yang terjadi? Lukamu pasti sakit sekali yah.. oh, okay”


2. Mengenali dan mengambarkan emosi.
Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia.
Nama Emosi dan Makna-nya :
  1. Marah – Merasakan adanya ketidakadilan
  2. Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain
  3. Takut - Kita diharapkan antisipasi karena sesuatum yang tak diinginkan bisa saja terjadi
  4. Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tak sesuai harapan artinya kita harus cari cara lain
  5. Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud
  6. Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga
  7. Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman
  8. Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar sesuatu karena ada sesuatu yang tak bisa dilakukan dengan baik
  9. Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru
  10. Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
  11. Depresi - Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan

Baiklah kita mulai dengan satu kasus, jika anak Anda datang kepada Anda dan berkata “Joni tidak mau bermain bola dengan ku” apa jawab Anda? “Sini main sama papa/mama, maen sama yang lain saja ya atau ya sudah.. maen sendiri saja”. Ketiga jawaban ini sekilas adalah jawaban klasik, dan memang dibenarkan karena sering dipakai. Pertanyaan saya ada Emosi apa dibalik kata-kata anak tersebut? Betul!! KECEWA, KESEPIAN, nah kalau begitu responnya bagaimana? “Hmm.. nak kamu pengen banget ya maen sama Joni?” atau “Hmm.. kamu kesepian yah, pengen main ya?” lalu tunggu responnya, biasanya anak akan bercerita panjang lebar, kemudian solusi sebaiknya diserahkan kepada anak, caranya “lalu apa yang bisa Papa/Mama bantu buat kamu? Mau maen sama Papa/Mama? Atau ada ide lain?” Biarkan anak memilih solusi terbaik bagi dirinya. Hafalkan tabel diatas dan gunakan untuk berkomunikasi dengan anak, pahami seiap kasus yang dialami anak.


Dengan turut mengerti perasaan emosi anak dan membiarkan menemukan solusi masalahnya sendiri maka anak akan merasa dipahami dan nyaman. Serta akan tumbuh rasa percaya diri dilingkungan yang menghargai dia. Dan berikutnya akan mudah bagi anak untuk terbuka terhadap orangtuanya, dan sikap saling percaya antara orangtua dan anak akan terbentuk dengan baik.


Sampai kini, kita telah belajar bagaimana caranya agar anak terbuka dan percaya pada kita, betul? Berikutnya bagaimana caranya mengarahkan? Caranya setelah kita mendengar dan mengerti perasaan dan emosi anak, serta menanyakan solusi terbaik menurut anak (jika anak sudah mampu berpikir untuk solusi) tanyakan “bolehkah Papa/Mama usul?” setelah ada ijin dari anak maka berikan masukan yang Anda rasa paling mujarab. Terkadang cara pandang anak tidak sama dengan orangtua, kita tahu jika anak memilih solusi yang kurang tepat (menurut orangtua) dengan nilai, norma yang berlaku di lingkungan sosial maka kita bisa “menggiringnya” dengan mudah karena langkah 1 dan 2 sudah dilakukan. Tentunya dengan model komunikasi yang sopan dan tetap menghargai anak.


Pintu gerbang kekerasan hati anak akan terbuka lebar saat kita mau menerima dan mengerti anak kita, dan anak akan mempersilahkan kita masuk dan bertamu didalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ditempat itulah kita dapat meletakan pesan, arahan dan masukan positif bagi kebaikan masa depan anak.


Saya paham cara ini butuh waktu, semua solusi cerdas untuk meningkatkan kualitas keluarga butuh waktu. Ada namanya “waktu tunggu” untuk suatu hasil yang istimewa. Masakan yang enak dan sehat butuh waktu dan proses didapur, tidak sekian detik jadi. Nah kualitas apa yang kita mau untuk keluarga kita?


Tiga Misteri Dibalik Nilai Anak yang Hancur

Kenapa seorang anak ketika belajar di rumah itu bisa, diberi soal lebih susah daripada di sekolah itu bisa, bahkan waktu di tempat les dia diberi latihan soal yang banyak juga bisa, soalnya lebih sulit juga bisa, tetapi ketika ulangan tiba-tiba nilainya jelek. Nah apakah Anda pernah punya masalah seperti ini? Anda yang punya anak SD, pasti sering mengalami masalah-masalah seperti ini. Anda pasti merasa jengkel ketika mengetahui bahwa anak Anda yang tadi malam belajar sudah bisa semua, tapi ketika ulangan ternyata ulangannya dapat nilai jelek. Jika ini terjadi sekali dua kali mungkin Anda bisa memakluminya, tapi jika ini terjadi berulang kali, Anda pasti mulai jengkel pada anak Anda. bahkan bisa jadi Anda frustasi dan kemudian malah mengeluarkan kata-kata negative.


Nah apakah yang terjadi dibalik masalah ini. Seorang anak yang bisa sewaktu di rumah, dan kemudian gagal waktu dia ulangan. untuk hal-hal yang sama dan itu berulang kali, maka Anda perlu curiga bahwa anak ini mengalami kecemasan yang tersembunyi. Anda pasti bertanya nggak mungkin? Dia cemas dari mana? Kenapa koq dia cemas?

Kecemasan yang tersembunyi ini disebabkan oleh banyak faktor. Ya , jadi bisa jadi tuntutan yang terlalu tinggi dari kita orang tua atau mungkin bahkan dari gurunya. Tuntutan ini tidak bisa membuat si anak menunjukkan kwalitas optimalnya. Sehingga ketika ulangan,yang terbayang adalah ketakutan bahwa dia tidak bisa memenuhi tutuntan dari si orang tua. Atau tuntutan dari gurunya mungkin. Nah Anda tahu, Ketika kita itu cemas maka kita tidak bisa berpikir secara jernih.Anda tentu pernah mengalaminya bukan? ketika Anda sedang cemas, sedang stres berat. Maka hal yang sepele tentunya bisa jadi terlupakan. Nah ini yang terjadi pada anak-anak kita. Mereka cemas karena tuntutan kita yang terlalu tinggi,atau keharusan untuk menguasai sesuatu.


Ketika mereka merasa tidak mampu,kecemasan itu menghantui pikirannya. Dan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya tiba-tiba “blank”, pada saat ulangan. Ini juga sering terjadi pada kita. Ingatkah Anda pada saat dulu Anda kuliah?mungkin masih SMA bahkan?Ketika kita ulangan tiba-tiba saja mendadak lupa akan jawaban yang harus kita tuliskan disana. Padahal tadi malam jelas-jelas kita sudah belajar,hal tersebut. nah ketika kita menghadapi ulangan tiba-tiba saja hilang jawabannya. Apalagi ketika sang guru atau dosen mengatakan 5 menit lagi Anda harus mengumpulkan,dan waktunya habis. okey makin kita paksa akhirnya kita stress dan akhirnya kita lupa. Dan anehnya ketika kita sudah mengumpulkan lembar jawaban, keluar dari ruang ujian tiba-tiba jawabannya muncul dalam pikiran kita. “aaahhh” kenapa tidak dari tadi munculnya, Anda pasti menggerutu pada diri Anda sendiri. Anda pernah mengalami hal itu bukan?


Nah ini yang terjadi pada anak-anak kita. Jadi ketika mereka ulangan,maka sebaiknya jangan sampai mereka itu cemas. Tuntutan – tuntutan kita membuat mereka cemas. karena itu kita perlu instropeksi diri, apakah selama ini kita sudah menerima mereka apa adanya. Ya,kebanyakan dari kita berharap agar nilai mereka bagus. Tapi begitu nilai mereka jelek, kita mulai menuntut mereka. “Kenapa sih nilai kamu koq jelek ?” Jarang sekali ada orang tua yang mengatakan, “oh iya saya bisa memahami kamu nak, apa yang mama / papa bisa bantu agar lain kali nilaimu lebih bagus lagi?”. Jadi ketika seorang anak mempunyai nilai jelek, hal yang kita perlu lakukan adalah memahami dulu perasaannya. Saya yakin anak itupun tidak ingin nilainya jelek, bukan hanya kita. Diapun juga tidak ingin nilainya jelek tentunya.Tapi kenyataan yang dihadapi lain.


Ketika nilainya sudah jelek, dia sedih tetapi kita malah memarahi dia. Dia akan merasa bahwa dirinya tidak dipahami dan tidak dimengerti. Di lain hari kecemasan itu muncul dalam dirinya. Dia akan merasa, “aduh kalau saya jelek lagi saya pasti dimarahi lagi”, “saya pasti mengecewakan mama saya”. Pernah ada satu kasus dimana seorang anak tidak mau berangkat sekolah gara-gara hari itu ada ulangan. Dia mengatakan pada mamanya saya takut ma, “kenapa takut?” Tanya mamanya. “Saya takut mengecewakan mama kalau nilai saya jelek”. Dan ini dilontarkan oleh seorang anak kelas 2 SD. Nah, dari kejadian tersebut sang mama belajar bahwa selama ini, dia sering berkata “mama nga masalah dengan nilai mu”. Tetapi kenyataannya dia membuat anaknya cemas. Jadi terkadang kita sebagai orang tua hanya mengatakan, “nggak… nilai berapapun saya nggak masalah koq”. Tapi ternyata itu hanya di mulut saja. kenyataannya si anak merasakan hal yang berbeda, dia merasakan tuntutan orang tua yang terlalu tinggi.


Nah, untuk masalah ini sebaiknya kita perlu koreksi diri bagaimana caranya kita menerima seorang anak apa adanya, tidak tergantung dari nilainya. Ingat sebenernya nilai itu hanya mengindikasikan dia sudah bisa atau belum.Berbahagialah ketika nilai anak Anda jelek. Karena apa? Sekarang Anda tahu mana yang dia itu belum bisa. Pembelajaran yang baik harusnya ditujukan untuk meningkatkan seorang anak sehingga ia bisa kompeten di dalam bidangnya. Bukan untuk melabel dia pintar atau bodoh.


Oke, sebab yang lain adalah karena perlakuan-perlakuan negatif yang pernah di terima seorang anak bisa di rumah, bisa di sekolah. Misalnya , Ketika seorang anak nilainya jelek, kemudian kita marah-marahin dia, bahkan mungkin di hukum. Suruh berdiri di pojok, nggak boleh makan. Atau apapun yang kita bisa lakukan untuk itu. Nah ketika dia menerima perlakuan itu,maka perlakuan itu akan membekas di memorinya. Berikutnya ketika dia ulangan lagi di lain kesempatan maka yang dia liat di lembar soalnya bukan soal yang harus dibaca, tetapi wajah orang tuanya yang sedang marah. Wajah ini tiba-tiba saja muncul terbayang di dalam pikirannya. Anda bisa bayangkan jika kita berhadapan dengan soal ujian dan kemudian yang muncul adalah ketakutan membayangkan wajah orang tua yang sedang marah, karena kita tidak bisa. Atau mungkin wajah guru yang memalukan kita di depan teman-teman kita. Maka semua yang kita pelajari tiba-tiba saja menjadi hilang,dan akhirnya ulangannya jelek.


Baiklah, jika ini terjadi sebaiknya Anda perlu segera minta maaf pada anak Anda. Anda cukup mengatakan, “tempo hari waktu ulangan kamu jelek,dan kemudian papa atau mama marah sama kamu saat itu perasaan kamu bagaimana?” apapun yang di jawab oleh anak Anda terima apa adanya. Misalkan dia menjawab, Saya takutlah, saya merasa ini itu apapun itu Anda tinggal ngomong “Oke Maaf, papa mungkin saat itu keceplosan ngomong. Atau mungkin saat itu mama lepas control sehingga memarahi kamu terlalu dalam. Tapi sebenernya maksud mama sangat baik. Kamu mau nggak maafin mama? Mama lain kali janji akan mendukung kamu jika nilai kamu jelek, kita akan cari solusinya sama-sama dan kamu boleh tanya sama mama bagaimana supaya jadi nilainya baik. Kamu pasti kepengen nilai kamu juga baik juga kan?” Nah, itu tentunya jauh lebih baik bagi si anak. Daripada kita hanya sekedar memarahinya, memintanya belajar, memaksanya belajar tanpa sama sekali mengakui perasaannya untuk diberi kasih saying dan untuk di terima apa adanya.


Sebab yang lain adalah kurangnya perhatian berkwalitas. Mungkin Anda bertanya, “ah mana mungkin saya tidak memperhatikan anak saya”. Betul,saya percaya dan yakin bahwa setiap orang tua pasti memperhatikan anaknya.Tetapi terkadang perhatian yang kita berikan itu tidak cocok dengan apa yang diinginkan oleh si anak, yang saya maksud dengan perhatian di sini adalah perhatian yang berkuwalitas. Dalam arti kita memperhatikan juga perasaan-perasaan si anak. Bukan Cuma memperhatikan tugas-tugas yang dia harus slesaikan. Kebanyakan dari kita hanya memperhatikan tugas –tugas yang harus di selesaikan oleh seorang anak. Kita hanya memperhatikan kamu sudah ngerjakan PR belum? kamu sudah belajar belum? pensil kamu sudah diraut belum? besok kalau ulangan kamu sudah siapkan pensilnya/ bolpoint? Buku kamu sudah kamu siapin belum? kita hanya memperhatikan aspek-aspek fisik. Kita tidak memperhatikan aspek-aspek perasaan dari si anak.


Padahal yang jauh lebih dibutuhkan seorang anak adalah perhatian akan perasaan-perasaannya sehingga dia bener-bener di terima secara utuh oleh orang tuanya. Anda bisa memberikan perhatian berkuwalitas ini dengan lebih baik, dengan cara membaca artikel saya yang berjudul Tiga Kebutuhan Emosional Anak dan.. itu adalah salah satu cara terbaik untuk memberikan perhatian berkuwalitas pada anak Anda.


Cara Mengetahui Potensi Diri Dan Bakat Terpendam Pada Balita

Bingung menggali Potensi dan bakat terpendam yang dimiliki anak anda?? Ternyata sekarang tidaklah sulit untuk menggali potensi diri dan bakat yang dimiliki anak. Sekarang potensi dan bakat tersebut bisa dideteksi dan diketahui hanya melalui pemindaian sidik jari. Teknik pemindaian sidik jari ini bisa membaca kelebihan dan kekurangan anak dan solusinya dengan tingkat keakurasian sekitar 95 persen. Setiap masing-masing individu (anak) ternyata memiliki bakat, potensi diri, keunikan dan kelebihan masing-masing yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Dan Keunikan anak ini diperoleh semenjak anak tersebut dilahirkan. Sebagian besar orang tua ingin mengetahui potensi diri dan bakat anaknya dengan tujuan agar si orang tua dapat menentukan metode pendidikan yang sesuai dan cocok untuk mental dan bakat yang dimiliki sang anak.




Kebanyakan orang tua selalu berusaha dalam menemukan bakat terpendam yang dimiliki oleh anaknya dilakukan dengan mengamati perilaku dan tindakan yang dilakukan si anak tersebut dalam pola kehidupannya. Orang tua cenderung mengarahkan bakat terpendam yang dimiliki oleh anak tersebut dengan memberikan pendidikan yang sesuai dengan bakat si anak tersebut. Misal anak yang mempunyai kesenangan terhadap musik, maka biasanya oleh orang tuanya anak tersebut dimasukkan ke sekolah musik untuk mengoptimalisasi potensi diri dan bakat terpendamnya. Begitu pula, apabila sang anak gemar bermain sepak bola, maka orang tua mengarahkan anak untuk mengikuti latihan epak bola di sebuah klub sepak bola.

Lalu, bagaimana yang akan dilakukan orang tua jika orang tua tidak bisa mengetahui bakat dan potensi diri yang dimiliki anak dalam kegiatan yang paling disukai anak-anak mereka? Solusi yang sering dipilih dan dilakukanbiasanya dengan cara acak, yaitu memasukkan anak-anak ke kursus di berbagai macam kegiatan atau bidang, seperti musik, atau olah raga. Dengan cara tersebut, orang tua berharap dapat mengetahui bidang apa yang paling dikuasai dan digemari sang anak. Setelah itu, anak pun diarahkan untuk menekuni bidang tersebut.

Selain mengamati aktivitas dan perilaku anak di rumah dalam kegiatan sehari-hari dalam mengenali bakat dan potensi anak, umumnya orang tua memperhatikan kegiatan belajar anak di sekolah. Apabila sang anak dinilai memiliki prestasi yang cukup menonjol pada salah satu bidang pelajaran, biasanya orang tua berspekulasi untuk menyimpulkan bahwa sang anak memang berbakat di bidang tersebut.

Sebagian besar orang tua ada pula yang rela mengucurkan dana berlebih untuk meminta bantuan psikolog untuk mengetahui kompetensi, bakat yang dimiliki anak mereka. Biasanya psikolog akan mengajukan serangkaian psikotes. Untuk memastikan ketepatan hasil psikotes tersebut, anak pun akan diwawancarai dengan beberapa macam pertanyaan Selanjutnya hasil dari kedua metode tersebut, yakni psikotes dan wawancara, dan kemudian dianalisa. Hasil analisa dapat diambil kesimpulan sehingga bisa dijadikan bahan rujukan bagi orang tua dalam mencari bakat terpendam yang dimiliki anak.

Beberapa metode penentuan potensi bawaan dan bakat terpendam anak di atas tersebut sudah merupakan metode yang umum untuk digunakan selama ini. Sekarang ini, telah ditemukan metode terbaru dan keakurasiannya sangat tepat dan metode ini bisa terbilang lebih praktis dan akurat, yakni dengan memindai 10 jari manusia. Metode tersebut dikenal dengan teknologi dermaogyplics.

Menurut Jason Teo, Chief Operating Officer (COO) Brain Child eaming(BCL),teknologj dmnaro-glyphics dapat dipakai untuk membuktikan seberapa besar kapasitas yang dimiliki anak sejak lahir, mengetahui potensi bawaan, serta bakat terpendam anak. Teknologi tersebut, lanjut Jason, mulanya dikembangkan di Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat (AS).

Selanjutnya BCL (bukan Bunga Citra Lestari…lhoooo) mengembangkan teknologi dermatoglyphics selama 15 tahun untuk disesuaikan dengan kebutuhan tes bagi anak-anak di Asia. Dilihat dari cara kerjanya, teknologi yang berupa perangkat lunak itu menghitung jumlah garis dalam sidik jari manusia. Setelah itu, software akan mengukur derajat antara pertemuan garis dan pusat pada motif garis di jari. Seusai pengukuran, perangkat lunak tersebut akan menganalisis karakter seseorang

Berdasarkan jenis sidik jari yang dimiliki anak. Sidik jari manusia dapat dibedakan menjadi empat macam, antara lain :

1. Whorl (W); orang dengan jenis sidik jari whorl biasanya memiliki karakter independen, kompetitif, keras kepala, dan proaktif.
2. Ulnar loop (U); karakter orang yang memiliki jenis sidik jari ulnar loop biasanya emosional, memiliki kemampuan adaptasi yang cepat, serta mudah berinteraksi.
3. Radial loop (R) ; orang yang memiliki jenis sidik jari radial loop biasanya cenderung egois dan memiliki pemikiran terbalik.
4. Arch (A) ; adapun karakter orang yang memiliki jenis sidik jari arch cenderung praktis, realistis, efisien, tetapi konservatif.

Kombinasi Amerika-Asia

Jason mengatakan perangkat lunak dermatoglyphics tersebut dapat mengenali karakter seseorang sesuai dengan data base yang sebelumnya memang sudah dimasukkan saat pempro-graman. Basis data itu dibangun berdasarkan data statistik, ilmu dermatoglyphics, dan ilmu genetik.

Data statistik perangkat lunak dermatoglyphics itu berasal dari sidik jari 3 juta orang. Sampel tersebut merupakan kombinasi dari masyarakat Amerika dan Asia. Dengan demikian, sampel telah mewakili orang-orang dari belahan dunia Barat dan Timur. Pempro-graman data base perangkat lunak dermatoglyphics juga bersumber dari perkembangan ilmu dermatoglyphics, yaitu studi yang mempelajari sifat alamiah sidik jari.
Dari hasil penelitian para ilmuwan di bidang dermatoglyphics, diketahui bahwa setiap individu di dunia memiliki sidik jari yang berbeda-beda. Karakter sidik jari manusia juga ternyata berhubungan erat dengan bagian fungsi otak.

Ibu jari memiliki jalinan ke otak depan dan motif garis ibu jari itu bisa menunjukkan karakter seseorang.
Telunjuk memiliki hubungan dengan otak depan yang posisinya lebih atas. Motif garis telunjuk tersebut dapat menunjukkan pemikiran logis dan kreativitas seseorang.
Jari tengah memiliki keterkaitan dengan otak bagian atas. Motif jari tengah itu dapat menunjukkan kontrol pergerakan minor dan mayor seseorang.
Jari manis memiliki jalinan dengan otak yang berada di belakang telinga. Motif jari manis itu kerap dikaitkan dengan kontrol pendengaran.
Sedangkan jari kelingking memiliki hubungan dengan otak belakang. Motif jari kelingking itu dapat menunjukkan tingkat konsentrasi maupun penglihatan seseorang.


Jari-jari tangan sebelah kanan seseorang mewakili fungsi otak sebelah kiri. Otak kiri berfungsi untuk melihat perbedaan angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, dan logika.
Sedangkan jari-jari tangan sebelah kiri seseorang mewakili fungsi otak sebelah kanan. Otak kanan berfungsi untuk melihat persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk ruang, emosi, musik, dan warna.
Data base perangkat lunak dermatoglyphics diprogram berdasarkan ilmu genetika. Umum diketahui, gen merupakan unit dasar dalam kehidupan manusia. Gen bertindak seperti kode kehidupan manusia yang menerima dan menyampaikan pesan-pesan turun-temurun dari satu generasi ke geneffgi berikutnya. Gen erat kaitannya dengan motif sidik jari yang diturunkan orang tua kepada anaknya. Motif sidik jari anak pasti akan sama dengan orang tua atau kakeknya,.

Secara medis, motif sidik jari manusia terbentuk sempurna pada minggu ke-13 ketika janin mulai berkembang. Jason menambahkan dengan data base yang lengkap, otomatis perangkat lunak dermatoglyphics dapat mengetahui karakter sidik jari manusia yang berbeda-beda secara spesifik dan akurat.  Alhasil, teknologi itu dapat membaca kelebihan juga kekurangan anak serta solusinya dengan tingkat akurasi mencapai 95 persen.

Sayangnya, teknologi in hanya dapat efektif untuk mengetahui kompetensi anak pada usia 5 hingga 15 tahun saja. Rentang usia tersebut merupakan masa perkembangan otak manusia. Pada masa-masa itu pula segala potensi anak masih berpeluang dikembangkan. Sedangkan saat usia anak mencapai lebih dari 15 tahun, pembentukan karakter lebih sulit karena anak sudah memiliki pemikiran matang.

Mengenal Perkembangan Kehidupan Anak Kita – Cara Mengubah Perilaku Anak

Mengenal Perkembangan Kehidupan Anak Kita – Cara Mengubah Perilaku Anak, Sebagian orangtua mungkin merasa sedikit stres saat mengasuh anak. Anak-anak zaman sekarang lebih pintar, begitu mungkin kata Anda, sehingga selalu punya alasan untuk tidak mematuhi peraturan. Mereka selalu tahu bagaimana membantah ucapan Anda.


Hal ini membuat Anda khawatir anak-anak tidak merespons apapun yang Anda minta. Bila sudah merasa gagal meminta anak melakukan apa yang Anda mau, Anda pun langsung balik merespons dalam bentuk bentakan, pendek kata yang bisa menunjukkan power Anda sebagai orangtua. Anda berusaha mengembangkan pola pengasuhan yang berbeda, namun tetap tak ada hasilnya. Maklum, sikap membangkang anak-anak itu sudah terbentuk sejak lama sehingga sulit untuk diubah.

Benarkah sudah terlambat untuk mengubah cara mengasuh anak-anak ketika karakter mereka sudah terbentuk? Menurut James Lehman, terapi perilaku anak-anak, tidak ada kata atau terlambat untuk mengubahnya. Mungkin memang tidak gampang, tetapi ada cara efektif yang bisa mulai Anda lakukan untuk mengubah cara Anda merespons dan memperbaiki perilaku anak-anak.

1. Tentukan hal yang dapat Anda lakukan lebih dulu. Salah satu hal yang menghambat adalah ketika Anda tidak mengetahui harus mulai dari mana. Namun, mulailah dari hal-hal sederhana yang menempatkan anak dalam kondisi berisiko secara emosional maupun fisik. Misalnya, ketika anak menciderai anak tetangga, merusak mainannya, atau nekad menyeberang jalan. Tentu Anda tidak dapat mengubah semuanya sekaligus. Anda harus mulai membicarakan tentang nilai-nilai dan moral kepada anak-anak, hal-hal yang membahayakan dirinya dan anak-anak lain.

2. Mulailah satu-persatu. Ketika anak merasa kesal lalu masuk ke kamar dan membanting pintunya sambil membentak Anda, lakukan satu hal yang ingin Anda ubah pertama kali. Anda bisa menegurnya dengan mengatakan, “Jangan menyumpah, itu tidak sopan dan tidak menyelesaikan masalah. Lagipula, kamu bikin Ibu sedih. Bisa enggak lain kali kamu tidak menyumpah ketika sedang kesal?” Lalu, berikan pilihan mengenai apa yang harus dilakukannya. Misalnya, masuk ke dalam kamar supaya bisa menenangkan diri. Setelah urusan menyumpah itu selesai, Anda bisa menuju ke persoalan lainnya. Ubahlah satu demi satu perilaku yang Anda rasa salah. Jangan mencoba untuk mengatasi semuanya sekaligus.

3. Jelaskan perubahan yang Anda inginkan. Jika Anda akan melakukan pendekatan baru saat menghadapi perilaku anak yang salah, ada baiknya apabila Anda menjelaskan alasannya kepada si buah hati. Mungkin hal tersebut akan membuat anak Anda marah dan frustrasi. Namun jangan biarkan kemarahan tersebut dijadikan anak untuk berargumentasi dengan Anda. Katakan bahwa Anda mengerti bahwa ia kesal, namun minta ia untuk  bekerja sama sebagai sebuah keluarga. Disarankan juga agar Anda tidak berbicara panjang-lebar, tidak spesifik, dan tidak terfokus, agar anak lebih mudah menerima atau memahami apa yang Anda inginkan.

4. Katakan kepada anak tujuan Anda mengubah peraturan. Dengan mengatakan tujuan yang diharapkan, Anda memberikan kepercayaan kepada buah hati Anda untuk membantu mewujudkan perubahan tersebut. Sangat penting untuk menyadari bahwa apa yang keluar dari mulut Anda tidak selalu dipahami anak seperti yang Anda inginkan. Ketika anak tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, mereka dapat menjadi frustrasi, khawatir, dan marah, meskipun mungkin mereka mencoba untuk tetap tenang. Apapun itu, Anda dapat mengatakan, “Mari kita lihat jalan keluarnya.” Itu adalah salah satu cara untuk mendekati anak Anda dan mengubah persepsi hubungan antara Anda dan dia.

5. Membatasi peluangnya. Jika Anda khawatir anak akan melakukan sesuatu yang merugikan, salah satu yang dapat Anda lakukan adalah membatasi peluang anak untuk melakukan hal-hal tersebut. Misalnya, si ABG Anda senang mengendarai mobil dengan ceroboh. Ia tidak mau menuruti aturan Anda untuk mengemudi dengan aman. Maka yang bisa Anda lakukan adalah menyita mobilnya. Itulah yang terjadi ketika Anda membatasi peluang anak untuk membawa mobil. Membatasi peluang adalah salah satu cara paling sederhana untuk membentuk perilaku anak. Anda bisa mengembalikan mobil tersebut ketika ia sudah bisa menunjukkan perubahan perilakunya.

6. Jangan mengharapkan empati anak. Meminta empati bukanlah pendekatan yang dapat meyakinkan anak Anda, terutama bagi anak-anak remaja yang cenderung kurang berempati pada orang lain. Untuk mengubah sesuatu, Anda harus menunjukkan akibat yang ditimbulkan dari perilaku anak Anda. Jika ingin anak Anda berhenti berbohong, Anda harus dapat melakukan suatu cara agar anak menyadari akibat dari kebohongan yang dilakukannya. Dengan begini, Anda tidak perlu bergantung pada empati anak Anda.

7. Tetapkan batas dan beri konsekuensi. Salah satu hal yang penting dalam mengasuh anak adalah menetapkan batasan pada mereka. Anda memang tidak dapat mengatur anak untuk melakukan sesuatu sesuai harapan Anda. Namun, Anda dapat mengarahkan anak untuk melakukannya. Misalnya, Anda meminta anak untuk masuk ke kamar dan tidur. Tetapi, anak tidak mau tidur. Maka, Anda bisa mengajaknya masuk ke kamar, dan membuatnya mengantuk. Anda bisa mengombinasikan konsekuensi dan motivasi agar anak pun bisa mengantuk. Katakan, “Kalau tidak cepat tidur, besok bisa bangun kesiangan.” Lalu, padamkan lampu kamarnya, dan matikan televisi atau radionya. Inilah yang akan membantunya untuk mengantuk.
Ingat, konsekuensi adalah alat untuk mencapai tujuan. Konsekuensi yang “efektif” adalah ketika anak mulai merespons, meskipun hanya sesaat. Dengan demikian, Anda tidak perlu menggunakan hukuman yang lebih besar.

Jadi, apakah sekarang Anda mengetahui bagaimana cara untuk mengubah gaya pengasuhan Anda?

Perbandingan Kerja Otak Kiri dan Kanan


a. Simbol vs Gambar
b. Runtut/Sekuen vs Acak/Random
c. Logika vs Kreatif/Seni
d. Detail ke Global vs Global ke detail.
e. Setahap demi setahap vs Langsung
f. Proses then memori vs memori then proses
g. Duplikasi vs imaginasi
h. Teratur vs acak dan melompat-lompat
i. Analisis mengurai vs Analisis Kesimpulan
j. Tenggat Waktu vs Bebas Waktu
k. Rencana vs Inspirasi
l. Objek Hitam Putih vs Objek yang berwarna warni
2. Perbedaan Kombinasi Kontinum Otak dan Indera dominan
a. Otak Kiri dengan sensori Visual –> Cenderung Diam, Tegas, Berpikir Runtut, Logika bagus
b. Otak Kiri Auditori –> Cenderung Bicara, Suka berdebat, Logika bagus, cepat menghafal
c. Otak Kiri Kinestetik –> Cenderung diam, Lincah bergerak, Berpikir runtut, logika bagus
d. Otak Kanan Visual –> Suka menghayal, kuat mengingat, cenderung diam, sulit mengeja, suka menggambar, kurang suka mencatat.
e. Otak Kanan Auditori –> Suka bicara, Bicara acak, Bicara khayalan, suka berhandai-handai…, sulit mengeja tapi suka bicara,
f. Otak Kanan Kinestetik –> Cenderung diam, terus bergerak, bergerak tak beraturan, sering melakukan hal-hal yang penuh resiko, pandai membuat sesuatu karya tangannya

Empat Kelompok Temperamen Anak

 
Temperamen atau karakter merupakan sifat seseorang yang secara tetap akan mempengaruhi perasaan, perbuatan, bahkan pikirannya. Menurut wikipedia, temperamen adalah gaya perilaku seseorang dan cara khasnya dalam memberi tanggapan. Kita sering jumpai orang dewasa yang memiliki temperamen periang, pemberani, penyedih, teliti, dan sebagainya.

Bagaimana dengan anak-anak? adakah temperamen pada anak-anak? Temperamen anak merupakan sesuatu yang didapat dari garis keturunan atau sifat bawaan orang tuanya, tetapi kondisi lingkungan anak yang akan dapat membantu menjadikan pribadi anak tersebut menarik. Sehingga dengan didukung dengan lingkungan yang kondusif, temperamen anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang menarik dan menyenangkan.

Seorang filsuf Yunani yang bernama Hipocrates (460-375 SM) membedakan temperamen individu menjadi empat kelompok:

1. Sanguine
2. Melankolis
3. Choleric
4. Phelgmatic

Kelompok Sanguine

Individu dengan kepribadian seperti ini biasanya akan terlihat menonjol di lingkungannya dengan sifat/cenderung ceria, gembira, pandai bercerita, bahkan mudah akrab dengan orang lain, dan sifat-sifat positif yang lainnya. Anak seperti ini akan mudah terlihat karena selalu menjadi pusat perhatian dan banyak teman. Tetapi dari sisi negatif, adakalahnya si anak tidak bisa membedakan situasi sekitarnya, ketika suasanya memerlukan ketenangan, hening, atau khusuk, si anak malah berbuat yang lucu sehingga suasanya jadi lain.

Kelompok Melankolis

Anak dengan temperamen melankolik cenderung terlihat sebagai anak yang suka murung, sedih, sendu, berperasaan halus, pendiam bahkan tidak menyukai suasana yang ramai. Ciri yang mudah terlihat dari batita dengan temperamen seperti ini adalah sifat cengeng.

Kelompok Choleric

Biasanya anak dengan temperamen ini memiliki bakat memimpin, tangguh dan berkemauan keras sehingga dia terlihat menonjol diantara teman-temannya karena dia energik, gesit, dan tidak pernah diam. Tetapi adakalah dengan sifat ini, akan cenderung mengabaikan perasaan orang lain, kurang bertenggang rasa dengan yang lain. Karena temperamen ini lebih mengutamakan hasil yang ingin dia capai.

Kelompok Phelgmatic

Tipe temperamen ini membuat anak cenderung lambat mengerjakan dan menangkat sesuatu. Tingkah laku anak terlihat seperti sangat santai, terkesan lambat, dan cenderung untuk malas. Sehingga tahap perkembangannya pun terlihat lambat, hal itu terkait dengan perkembangan sosio-emosional, motorik, intelektual, fisik, dan lainnya.
Dari keempat kelompok/tipe temperamen tersebut, tidak ada yang ideal.

Sumber:
- http://id.wikipedia.org/wiki/Temperamen
- Berbagai sumber